Saturday, December 24, 2016

Tak Tergantikan



Tak Tergantikan
Dalam sebuah rumah yang cukup luas, duduklah seorang anak perempuan kecil. Anak itu bernama Afika, anak perempuan kecil berumur 7 tahun. Dia duduk didepan meja makan dengan tersenyum imut sedang menunggu ibunya. Tak lama kemudian, akhirnya dia melihat ibunya membawa kare daging kesukaannya. Ia terlihat begitu gembira menyambut kare daging itu. Dengan senyumnya yang lebar dan ayunan-ayunan kedua kakinya, dia ingin segera melahap kare itu. Ibu itu tersenyum kepada putri kecilnya. Kemudian meletakkan kare ayam diatas meja makan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang mengagetkannya.
“Tunggu sebentar ya nak”, kata Ibu itu kepada putrinya.
Ia berjalan menuju kearah pintu sembari ia sedikit memiringkan kepalanya, untuk melihat bayangan dibalik pintu itu dari jendela ruang tamu. Ketika membuka pintu, ia terkejut dan mengerutkan keningnya.
“Ada apa ya Pak?”, tanyanya.
“Maaf mengganggu. Apa benar anda puntri dari Ibu Yulian?”, tanya Bapak Polisi.
“Iya betul”, sahutnya.
Kemudian, muncullah seorang wanita tua yang ada dibalik polisi itu. Dengan baju yang basah kuyup dan rambut yang tak terurus.
“Nak Sandra”, sapa wanita tua yang ada dibalik Pak Polisi.
Dengan kagetnya Sandra melihat wanita tua yang memanggilnya ‘nak’ itu. Sandra terbengong dan kaget melihat kondisinya. Melihatnya dengan baju lusuh dan basah, rambutnya yang terurai tak terurus, dan ketika melihat kakinya, ia tak mengenakan sehelai alas pun. Wanita tua itu juga membawa dua ikat sayur bayam yang sudah layu dalam wadahnya. Kemudian, ia melihat wanita itu mengusap keningnya dengan lengannya.
“Kenapa ibu datang kesini?”, tanya Sandra.
“Mau menjengukmu nak”, jawabnya.
Dengan segera, Sandra berusaha mengambil wadah yang berisi dua ikat bayam dan menggandeng ibunya untuk masuk kedalam rumah. Sesampainya di ruang makan, terlihat Afika yang kaget karena melihat tamu itu.
“Wah. Cucuku cepat besar rupanya.”, sapa Yulian kepada cucunya.
Dengan gandengan Sandra, kemudian Yulian meletakkan bayamnya diatas meja dan duduk didepan Afika yang masih terdiam menatapnya. Tapi, kemudian Afika menarik kare daging kesukaannya dari atas meja.
_____
Tiga hari yang lalu,..
“Saya baik-baik saja Bu. Mungkin karena saya kelelahan saja. Jangan khawatirkan saya Bu.”
Yulian menutup telepon umum secara perlahan dan mengambil kertas catatan nomor telepon anaknya. Dia memikirkan putri tunggalnya yang tinggal di kota bersama suami dan anaknya.
Walaupun ditolak secara halus, Yulian tetap memutuskan untuk pergi ke kota untuk menjenguk putri tunggalnya. Dulu ketika putrinya sakit, dia akan memasakkan sup ayam kesukaannya. Ayam itu ia ambil dari kandang samping gubuknya. Tapi kali ini, ayamnya telah habis. Tapi, dia ingin tetap ingin memasak untuk putrinya. Jadi, dia memutuskan untuk mencari sayuran di lereng gunung yang berada tak terlalu jauh dari gubuknya. Dengan keringat yang terus mencucur dari dahinya, dia berusaha untuk tetap mencari sayuran dan hal itu tak membuatnya putus asa sedikit pun. Hanya terik matahari yang menemaninya saat itu. Ulat-ulat sayur yang menempel ditangannya, tak ia hiraukan.
_____
Di dapur rumah Sandra, jam 18.20…
“Bu.. Hati-hati!!!”. Teriakan Sandra dari dalam dapur.
Afika mengintip dari balik dinding dapur. Dia melihat neneknya yang sedang memotong ayam yang mereka beli tadi pagi. Kemudian, Yulian mencuci sayur yang ia bawa itu.
“Dimana kran airnya nak?”, tanya Yulian.
“Biar saya saja Bu yang mencucinya. Ibu duduk saja di ruang makan.”, Sandra menjawab dengan mengerutkan keningnya seakan penuh tanya.
“Tidak apa-apa nak.” Sahut Yulian.
Tak lama kemudian, Sandra dikagetkan lagi dengan tumpahan sendok-sendok dan pisau dapur yang ada didepan ibunya itu, Yulian.
“Saya bantu ambil sendoknya Bu”, kata Sandra “Hati-hati Bu. Disebelah sendok itu ada pisau”, tambahnya.
Beberapa menit kemudian, Yulian meletakkan sup ayam yang ia masak itu diatas meja makan dihadapan Afika.
“Mama. Ayamnya masih mentah.”, protes Afika kepada Sandra yang duduk didepannya. Sandra hanya terdiam melihat sup ayam itu dan menatap anaknya.
“Sup ikannya sudah siap”, suara Yulian dari dalam dapur.
Sandra dengan segera beranjak dari kursinya untuk mengambil sup ikannya yang sudah dibawa oleh Yulian.
“Biar saya bantu Bu,” sahut Sandra, dan ia berlari kecil untuk mengambil sup ikan itu.
 “Ayo bu makan malam bareng”, ajak Sandra kepada ibunya sembari mengambil sup ikannya.
 “Iya. Tunggu sebentar nak”, jawab Yulian yang ingin mencuci tangannya terlebih dahulu.
Ketika sup ikannya sudah di atas meja makan, Sandra melihat sisik ikan yang tercampur dalam sup. Sandra dengan segera mengambil dan membuang sisik ikan itu agar anaknya tidak melihatnya.
Kemudian, Afika memakan nasi dan masakan sup itu. Tapi ia tersedak.
“Nasinya keras Ma… dan masakannya asin,”
Sandra kaget dan segera ia menepuk-nepuk punggung anaknya secara perlahan.
Yulian yang sedang berjalan ke arah ruang makan, secara tidak sengaja ia melihat kejadian itu. Ia memalingkan wajahnya dari anak dan cucunya. Wajah yang tadinya tersenyum bahagia, sekarang menjadi sedih dan sangat terpukul.
Padahal sangat jarang ia berkumpul bersama. Tapi, dia memutuskan untuk pulang saja. Walau putrinya telah membujuknya agar tetap di rumah itu, dia tetap memutuskan untuk pergi.
____
Putrinya merasa ada sesuatu yang salah terhadap ibunya. Setengah bulan kemudian, ia mengunjungi ibunya yang tinggal didesa terpencil. Dengan memawa baju baru dan makanan kesukaan ibunya, ia berjalan menuju gubuk kecil dimana ibunya tinggal.
Sesampainya di gubuk itu, ia masuk ke dalam dan membuka kelambu yang menggantikan pintu itu, dan terbongkarlah rahasia ibunya selama ini. Ia mendapati ibunya yang sedang duduk dan berusaha untuk melahap nasi akik.
“Nak…”, panggil ibunya dengan terkejut.
Seketika, Sandra sangat kaget melihat keadaan ibunya. Melihat ibunya yang berusaha memakan nasi akik, melihatnya berusaha bangkit dari kursi, dan melihat ibunya meraba-raba sesuatu untuk pegangan ketika ia ingin berjalan menuju anaknya. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut putri tunggal itu.
Terbongkarlah semua rahasia ibunya selama ini.
Ibu Yulian. Berusia 64 tahun. Satu matanya terkena katarak yang mendekati buta. Mata satunya lagi terkena Presbyopia serius. Dia mengkhawatirkan biayanya. Jadi, ia merahasiakan penyakitnya dari putrinya.
Dia pergi pertama kali keluar gunung sendirian hanya untuk mencari sayuran. Dia tentunya tak bisa melihat jalan. Tetapi, dia tahu bahwa putrinya ada di sebrang jalan. Dari gubukya ke kota, dia harus mendaki 2 bukit, menyebrangi sungai, dan berjalan kaki sepanjang 32 km. dia harus naik turun angkutan umum sebanyak 4 kali. Melewati 7 kota, dan menghabiskan waktu 36 jam dengan bus.
Dia tidak tahu apa-apa tentang kota di mana putrinya tinggal. Tapi nama putrinya, ia selalu mengingatnya dan ia ingat jika semua ini ia lakukan hanya demi putrinya dan memasakkan sup ayam kesukaannya. Hingga suatu malam dating di kota itu, dan dengan hujan rintik-rintik, ia bersandar di bawah lampu jalan. Kemudian, tanpa sengaja seorang polisi mendapatinya, dan ia mengantarkannya di rumah putri tunggalnya.
Seketika itu Sandra langsung merangkul ibunya dan mengusap kedua mata ibunya, seakan-akan ia tak ingin melepaskan ibunya lagi.
____
Setiap ibu, seperti Ibu Yulian. Ia begitu pelit untuk dirinya sendiri. Tapi untuk anaknya, dia bisa bayarkan semuanya.






By:
Wilda Norma Y
Maaf. Cerpenku emang belum bagus :D hehe


No comments:

Post a Comment