Tak
Tergantikan
Dalam sebuah rumah yang cukup
luas, duduklah seorang anak perempuan kecil. Anak itu bernama Afika, anak
perempuan kecil berumur 7 tahun. Dia duduk didepan meja makan dengan tersenyum
imut sedang menunggu ibunya. Tak lama kemudian, akhirnya dia melihat ibunya
membawa kare daging kesukaannya. Ia terlihat begitu gembira menyambut kare
daging itu. Dengan senyumnya yang lebar dan ayunan-ayunan kedua kakinya, dia
ingin segera melahap kare itu. Ibu itu tersenyum kepada putri kecilnya.
Kemudian meletakkan kare ayam diatas meja makan. Tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu yang mengagetkannya.
“Tunggu sebentar ya nak”, kata Ibu itu kepada putrinya.
Ia berjalan menuju kearah pintu sembari ia sedikit memiringkan
kepalanya, untuk melihat bayangan dibalik pintu itu dari jendela ruang tamu.
Ketika membuka pintu, ia terkejut dan mengerutkan keningnya.
“Ada apa ya Pak?”, tanyanya.
“Maaf mengganggu. Apa benar anda puntri dari Ibu Yulian?”,
tanya Bapak Polisi.
“Iya betul”, sahutnya.
Kemudian, muncullah seorang wanita tua yang ada dibalik polisi
itu. Dengan baju yang basah kuyup dan rambut yang tak terurus.
“Nak Sandra”, sapa wanita tua yang ada dibalik Pak Polisi.
Dengan kagetnya Sandra melihat wanita tua yang memanggilnya
‘nak’ itu. Sandra terbengong dan kaget melihat kondisinya. Melihatnya dengan
baju lusuh dan basah, rambutnya yang terurai tak terurus, dan ketika melihat
kakinya, ia tak mengenakan sehelai alas pun. Wanita tua itu juga membawa dua
ikat sayur bayam yang sudah layu dalam wadahnya. Kemudian, ia melihat wanita
itu mengusap keningnya dengan lengannya.
“Kenapa ibu datang kesini?”, tanya Sandra.
“Mau menjengukmu nak”, jawabnya.
Dengan segera, Sandra berusaha mengambil wadah yang berisi dua
ikat bayam dan menggandeng ibunya untuk masuk kedalam rumah. Sesampainya di
ruang makan, terlihat Afika yang kaget karena melihat tamu itu.
“Wah. Cucuku cepat besar rupanya.”, sapa Yulian kepada
cucunya.
Dengan gandengan Sandra, kemudian Yulian meletakkan bayamnya
diatas meja dan duduk didepan Afika yang masih terdiam menatapnya. Tapi, kemudian
Afika menarik kare daging kesukaannya dari atas meja.
_____
Tiga hari yang lalu,..
“Saya baik-baik saja Bu. Mungkin karena saya kelelahan saja.
Jangan khawatirkan saya Bu.”
Yulian menutup telepon umum secara perlahan dan mengambil
kertas catatan nomor telepon anaknya. Dia memikirkan putri tunggalnya yang
tinggal di kota bersama suami dan anaknya.
Walaupun ditolak secara halus, Yulian tetap memutuskan untuk
pergi ke kota untuk menjenguk putri tunggalnya. Dulu ketika putrinya sakit, dia
akan memasakkan sup ayam kesukaannya. Ayam itu ia ambil dari kandang samping
gubuknya. Tapi kali ini, ayamnya telah habis. Tapi, dia ingin tetap ingin
memasak untuk putrinya. Jadi, dia memutuskan untuk mencari sayuran di lereng
gunung yang berada tak terlalu jauh dari gubuknya. Dengan keringat yang terus
mencucur dari dahinya, dia berusaha untuk tetap mencari sayuran dan hal itu tak
membuatnya putus asa sedikit pun. Hanya terik matahari yang menemaninya saat
itu. Ulat-ulat sayur yang menempel ditangannya, tak ia hiraukan.
_____
Di dapur rumah Sandra, jam 18.20…
“Bu.. Hati-hati!!!”. Teriakan Sandra dari dalam dapur.
Afika mengintip dari balik dinding dapur. Dia melihat neneknya
yang sedang memotong ayam yang mereka beli tadi pagi. Kemudian, Yulian mencuci
sayur yang ia bawa itu.
“Dimana kran airnya nak?”, tanya Yulian.
“Biar saya saja Bu yang mencucinya. Ibu duduk saja di ruang
makan.”, Sandra menjawab dengan mengerutkan keningnya seakan penuh tanya.
“Tidak apa-apa nak.” Sahut Yulian.
Tak lama kemudian, Sandra dikagetkan lagi dengan tumpahan
sendok-sendok dan pisau dapur yang ada didepan ibunya itu, Yulian.
“Saya bantu ambil sendoknya Bu”, kata Sandra “Hati-hati Bu.
Disebelah sendok itu ada pisau”, tambahnya.
Beberapa menit kemudian, Yulian meletakkan sup ayam yang ia
masak itu diatas meja makan dihadapan Afika.
“Mama. Ayamnya masih mentah.”, protes Afika kepada Sandra yang
duduk didepannya. Sandra hanya terdiam melihat sup ayam itu dan menatap
anaknya.
“Sup ikannya sudah siap”, suara Yulian dari dalam dapur.
Sandra dengan segera beranjak dari kursinya untuk mengambil
sup ikannya yang sudah dibawa oleh Yulian.
“Biar saya bantu Bu,” sahut Sandra, dan ia berlari kecil untuk
mengambil sup ikan itu.
“Ayo bu makan malam
bareng”, ajak Sandra kepada ibunya sembari mengambil sup ikannya.
“Iya. Tunggu sebentar
nak”, jawab Yulian yang ingin mencuci tangannya terlebih dahulu.
Ketika sup ikannya sudah di atas meja makan, Sandra melihat
sisik ikan yang tercampur dalam sup. Sandra dengan segera mengambil dan
membuang sisik ikan itu agar anaknya tidak melihatnya.
Kemudian, Afika memakan nasi dan masakan sup itu. Tapi ia
tersedak.
“Nasinya keras Ma… dan masakannya asin,”
Sandra kaget dan segera ia menepuk-nepuk punggung anaknya
secara perlahan.
Yulian yang sedang berjalan ke arah ruang makan, secara tidak
sengaja ia melihat kejadian itu. Ia memalingkan wajahnya dari anak dan cucunya.
Wajah yang tadinya tersenyum bahagia, sekarang menjadi sedih dan sangat
terpukul.
Padahal sangat jarang ia berkumpul bersama. Tapi,
dia memutuskan untuk pulang saja. Walau putrinya telah membujuknya agar tetap
di rumah itu, dia tetap memutuskan untuk pergi.
____
Putrinya merasa ada sesuatu yang salah terhadap ibunya.
Setengah bulan kemudian, ia mengunjungi ibunya yang tinggal didesa terpencil.
Dengan memawa baju baru dan makanan kesukaan ibunya, ia berjalan menuju gubuk
kecil dimana ibunya tinggal.
Sesampainya di gubuk itu, ia masuk ke dalam dan membuka
kelambu yang menggantikan pintu itu, dan terbongkarlah rahasia ibunya selama
ini. Ia mendapati ibunya yang sedang duduk dan berusaha untuk melahap nasi
akik.
“Nak…”, panggil ibunya dengan terkejut.
Seketika, Sandra sangat kaget melihat keadaan ibunya. Melihat
ibunya yang berusaha memakan nasi akik, melihatnya berusaha bangkit dari kursi,
dan melihat ibunya meraba-raba sesuatu untuk pegangan ketika ia ingin berjalan
menuju anaknya. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut putri tunggal
itu.
Terbongkarlah semua rahasia ibunya selama ini.
Ibu Yulian. Berusia 64 tahun. Satu matanya terkena
katarak yang mendekati buta. Mata satunya lagi terkena Presbyopia serius. Dia
mengkhawatirkan biayanya. Jadi, ia merahasiakan penyakitnya dari putrinya.
Dia pergi pertama kali keluar gunung sendirian
hanya untuk mencari sayuran. Dia tentunya tak bisa melihat jalan. Tetapi, dia
tahu bahwa putrinya ada di sebrang jalan. Dari gubukya ke kota, dia harus
mendaki 2 bukit, menyebrangi sungai, dan berjalan kaki sepanjang 32 km. dia
harus naik turun angkutan umum sebanyak 4 kali. Melewati 7 kota, dan menghabiskan
waktu 36 jam dengan bus.
Dia tidak tahu apa-apa tentang kota di mana
putrinya tinggal. Tapi nama putrinya, ia selalu mengingatnya dan ia ingat jika
semua ini ia lakukan hanya demi putrinya dan memasakkan sup ayam kesukaannya.
Hingga suatu malam dating di kota itu, dan dengan hujan rintik-rintik, ia
bersandar di bawah lampu jalan. Kemudian, tanpa sengaja seorang polisi
mendapatinya, dan ia mengantarkannya di rumah putri tunggalnya.
Seketika itu Sandra langsung merangkul ibunya dan mengusap
kedua mata ibunya, seakan-akan ia tak ingin melepaskan ibunya lagi.
____
Setiap
ibu, seperti Ibu Yulian. Ia begitu pelit untuk dirinya sendiri. Tapi untuk
anaknya, dia bisa bayarkan semuanya.
By:
Wilda Norma Y
Maaf. Cerpenku emang belum bagus :D hehe
No comments:
Post a Comment