Saturday, December 24, 2016

Indah, Tapi Tidak



Indah, Tapi Tidak
“Suara yang begitu indah terdengar, terkadang bagi orang lain suara itu terdengar seperti gemuruh petir yang menakutkan” (by Wilda)
“Krruuurrkk... krrruuurkkk.... kruuurkk.........”
Terdengar suara yang begitu merdu nan indah yang terdengar syahdu di depan salah satu ruang kelas. Yah, itu adalah suara seekor burung merpati putih yang di bawa oleh salah seorang guru IPA di sekolah itu. Rupanya yang begitu cantik, warna yang putih, dan bulunya yang halus, menjadikan siapa saja ingin memilikinya. Tetapi sayang, burung merpati itu telah dimiliki oleh seseorang yang membawanya. Pemilik burung merpati itu bernama Bapak Zainal. Guru yang terkenal dengan kebaikan dan kealimannya. Tetapi, disisi lain beliau juga terkenal dengan sifat yang tidak mau kalah. Meskipun itu hanya masalah perdebatan yang sangat kecil. Hal apapun yang tidak sependapat dengannya, ia langsung angkat suara dan mengeluarkan argumen-argumennya, terutama permasalahan agama.
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. Lima belas menit lagi, waktu belajar akan dimulai. Pak Zainal dengan buru-burunya ingin melihat dan memberi makan merpati kesayangannya itu. Merpati itu memang sengaja tidak ia bawa pulang karena merpati itu akan ia gunakan sebagai contoh untuk mata pelajaran IPA kelas 5 SD.
Sesampainya di tempat itu, Pak Zainal yang tadinya tersenyum begitu manis, berubah drastis karena ia hanya mendapati sangkar merpatinya itu. Ia sangat kaget dan tidak menyangka jika burung merpati itu akan hilang di tempat para anak-anak kecil menuntut ilmu.
“Pak Zain”, celetuk suara kecil nan imut yang mengagetkannya. Suara itu ternyata datang dari anak kelas 1 SD yang tidak sengaja melihatnya di tempat itu. “Pak Zain. Pak Zain mau kasih makan burung yang bagus kemarin ya?”, tambah anak itu.
Kemudian, guru dan murid kecilnya itu berjalan menyusuri koridor-koridor untuk menuju ruang kelas.
“Dinda tahu tidak dimana burung merpati kesayangan bapak itu? Ini tadi bapak mau beri makan. Tapi kok burung merpatinya gak ada. Hilang”, tanya guru itu.
“Loh. Kok bisa hilang bapak?”. “Oh iya. Kemarin Dinda lihat ada anak kelas 6 lihat-lihat burung bapak itu. Kakak yang suka main bola itu bapak”.
“Iya kah?”. “Mas Anton maksudnya?”, tanya guru itu (kemudian menjelaskan ciri-cirinya).
***
Bel berbunyi pertanda pergantian jam pelajaran. Pak Zainal akhirnya memanggil Anton anak kelas 6 SD itu. Dengan detak jantung yang begitu keras dan dengan beribu pertanyaan yang sedang berjalan-jalan dipikirannya, ia menelusuri koridor-koridor untuk menuju keke tempat dimana ia nanti akan mendapatkan semua jawabannya.
“Anton?”, tanya sorang guru.
“Iya Pak.”
“Sini kamu. Duduk! Langsung saja ya. Saya memanggil kamu disini untuk menanyakan burung merpati putih yang kemarin saya letakkan di Green House,di sebelahnya tanaman kangkung. Kamu tau kan dimana dia sekarang? Jawab dengan jujur ya! Kan kmarin kamu lihat-lihat sebelum pulang.”, lantang suara Pak Zainal.
“Maaf Bapak. Memang benar saya kemarin sempat lihat-lihat burung merpati itu. Tapi, saya tidak tahu.”
“Jangan alasan kamu! Jelas-jelas kamu kan yang terakhir melihatnya sebelum pulang.”, sahut guru itu.
Guru itu dengan emosinya terus dan terus menanyakan keberadaan burung merpati kesayangannya itu. Tapi, lagi-lagi Anton menolaknya. Dia belum sempat menjawab dan menjelaskan semuanya, tetapi guru itu terus melemparnya dengan beribu pertanyaan. 40 menit berlalu... Kemudian..
“Yasudah. Kalau kamu tetap tidak mau mengaku, saya akan memanggil ketua RT kesini dan saya juga akan menulis surat untuk kedua orangtuamu. Saya kasih kamu waktu sampai jam istirahat.”, tegas Pak Zain.
***
“Krriiiiinggg Krriiiingggg....” Jam istirahat telah tiba. Di ruang kantor...
“Gimana Anton? Sudah tau belum dimana burung merpati kesayangan Bapak itu?”
“Maaf Pak. Saya benar-benar tidak tahu”, jawab tegas Anton.
Mendengar jawaban murid kelas 6-nya, bapak guru ini semakin memuncak emosinya. Perkataannya semakin menjadi-jadi. Akhirnya,
“Yasudah kalau gitu. Kamu tunggu disini ya.”
Dengan perasaan takut yang begitu mendalam, Anton tetap setia menunggu di ruang kantor itu hingga pukul 11 siang. Akhirnya, datanglah seseorang yang tak asing baginya. Yah, itu adalah Pak Jamil, seorang kepala RT di desa itu. Kemudian, Pak Jamil meminta agar ia ditinggalkan berdua dengan Anton.
“Anton. Kenapa kamu mencuri burung merpati Pak Zain? Kamu tau? Burung merpati itu sangat mahal harganya. Burung itu dibeli sewaktu beliau penataran di Papua. Cepat kembalikan! Kalau kamu gak mau kembalikan, saya akan membawa kamu ke kantor polisi dan kamu akan dipenjara seumur hidup kamu. Dan orangtua kamu membayar 10 juta. Mau kamu? Cepat kembalikan!”
Seorang Pak RT itu sangat melebih-lebihkan perkataannya. Sehingga hal itu membuat Anton menjadi sangat ketakutan, dan memikirkan dua kali lipat untuk mengakui yang belum tentu itu adalah kesalahannya. Akhirnya, dengan sangat terpaksa karena ia merasa sangat lapar dan lelah, ia berkata bahwa dialah yang mencuri burung merpati putih kesayangan guru itu.
Kemudian, Pak Jamil merasa bangga karena ia merasa bahwa ialah yang membuat Anton mengakui perbuatannya itu. Kemudian, Pak Zainal dengan emosinya yang sangat memuncak, memberi hukuman 6 kali pukulan rotan tepat di telapak tangannya. Pukulan itu juga harus disaksikan semua para siswa di sekolahnya.
“Plak... Plak... Plak... (suara pukulan rotan di telapak tangan Anton)”
Tiga pukulan terlewatkan. Tapi, dengan rasa malu dan menetesnya air mata, seolah-olah menghentikan suara pukulan itu. Anton memohon agar sisa hukuman pukulan itu di lanjutkan besok, karena dia merasa sangat lemas dan tidak kuat karena semenjak pagi, perut Anton belum terisi secuil makanan pun. Akhhirnya, Pak Zainal mengiyakan permohonan itu.
***
Keesokan harinya... (Di kelas 4-C)
Pak Zainal mengajar mata pelajaran IPA kelas 4. Disaat ia mengabsen para siswanya, ada satu siswa yang tidak bisa mengikuti pelajarannya hari itu. Namanya Fikri. Kemudian, guru itu bertanya alasan siswa itu tidak masuk sekolah.
“Ya Pak Zhain. Dia kan yang kemarin ambil burung merpati putih yang Bapak bawa itu. dan sekarang dia gak masuk karena katanya dia pengen punya merpati itu”, celetuk anak yang duduk di barisan paling belakang.
“Astaghfirullahaladzim. Ya Allah. Apalagi ini?” (tanya dalam hati guru itu)
Dengan perasaan yang bercampur aduk, guru itu terdiam seketika. Terlintas perasaan yang sangat bersalah  kepada anak yang dia beri hukuman di kala itu. Teteapi, di sisi lain guru itu belum percaya betul jika Fikri adalah pencurinya. Akhirnya, guru IPA itu memutuskan untuk pergi kerumah Fikri untuk mengecek langsung kebenaran itu sewaktu jam berakhirnya pelajaran.
Saat berjalan menuju ke ruang kantor, guru itu melihat seseorang yang berdiri di depan ruangannya. Ia tertunduk sembari menatap kearah kedua telapak tangannya yang memerah akibat goresan-goresan rotan. Ternyata, anak itu adalah tempat dimana guru itu meluapkan emosinya. Karena guru IPA itu merasa sangat bersalah, ia buru-buru masuk ke ruangannya tanpa menatap wajah anak itu dan tanpa sehelai katapun yang terucap dari bibir guru itu.
Dengan keadaan seperti itu, Anton memunyai pertanyaan yang sangat besar di benaknya. “Apa lagi kesalahanku? Kenapa Pak Zainal menjadi seperti itu? Kenapa....? dan Kenapa...??” Setiap hari ia selalu menunggu didepan ruangan kantor guru itu. tetapi, respon yang diberikan guru itu sama. Tidak menatap mukanya, dan terdiam.
***
Beberapa hari kemudian...
“Anton. Main yuk! Ngapain kamu disitu setiap hari?”, ajak teman kelasnya.
“Kan hukumanku yang kemarin belum selesai. Jadi aku harus menyelesaikannya. Aku sudah janji”
“Loh. Kan kamu bukan pencurinya. Ngapain dihukum? Ayo main saja”.
Akhirnya permasalahan itu tidak ada siapa yang berbicara. Baik Pak RT ataupun Bapak Guru itu. Tetapi, semua siswa dalam sekolah itu sudah tau siapa yang sebenarnya mencuri. Baik Pak Guru ataupun Pak RT itu pergi tanpa meminta maaf. Pak Guru itu malu karena dia sudah melakukan kesalahan yang besar kepada anak yang tidak bersalah. Sedangkan Pak RT merasa besalah karena dia tidak memberi kesempatan anak itu berbicara dan menjelaskan, dan Pak RT itu tidak percaya kepada perkataan anak kecil itu. Pak RT itu juga berpikir bahwa kenapa dia lebih berat kepada orang yang di anggapnya lebih dewas dan tau segalanya, disamping itu dia mempunyai posisi yang lebih atas darpipada anak kecil itu. Pak RT juga merasa bersalah kenapa dia tidak adil? Padahal dia adalah pemimpin yang seharusnya tidak seperti itu.
******


(Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada persamaan nama, tempat, atau yang lainnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Cerita itu saya tulis sebenarnya untuk mengomentari politik dan hukum yang berada di Indonesia. Semua dalam cerpen itu mempunyai makna tersendiri. Burung itu sebenarnya simbol yang mempunyai arti politik di Indonesia. Pak RT adalah simbol dari hukum yang ada di Indonesia. Pak Guru itu yang berarti ‘orang yang tergolong dari kelas atas’ (seperti pengusaha, pemerintahan, atau bahakan artis), dan Anton itu yang mempunyai arti ‘rakyat miskin/jelata’, atau orang-orang kelas menengah ke bawah (petani, buruh, dsb). Pak Guru menang dalam ‘meyakinkan’ Pak RT dan Pak RT itu tidak percaya secuil pun kepada Anton (murid), bahkan ia tidak memberi waktu untuk Anton menjelaskan. Yang berarti hanya orang-orang kelas atas yang bisa ‘memenangkan’ hukum di Indonesia. Hukuman di Indonesia ini sangat menyedihkan. Hukuman yang sebenarnya itu hanya untuk rakyat kalangan menengah ke bawah, dan mereka yang tergolong orang-orang kelas atas bisa melakukan apa pun untuk hukum, bahkan mereka bisa membeli hukuman itu.)

by: Wilda Norma Y
Maaf. Saya masih pemula .hehe

No comments:

Post a Comment